Wisata Kuliner Jogja

Wisata Kuliner Jogja

Home » Cafe

Cerita-Cerita dalam Sebuah Gerai Kopi: Tanamera Coffee

Cerita-Cerita dalam Sebuah Gerai Kopi: Tanamera Coffee Jogja

Setelah sebelumnya saya mengalami pembicaraan yang intense bersama kakak saya mengenai jarak antar generasi, kepala saya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang ingin saya utarakan atau bahas. Di tengah perasaan tersebut, saya memutuskan untuk bekerja di sebuah gerai kopi, sebuah cara bekerja yang menurut saya saat ini sudah menjadi gaya hidup yang biasa, dan banyak dilakukan oleh anak muda yang baru menginjak umur dua-puluhan.

Dua orang teman datang menyusul tiba-tiba, dan rencana bekerja saya pun gagal. Tanpa menjadikan kedua teman saya tersebut sebagai biang dari kegagalan saya bekerja tapi ternyata ide saya tentang bekerja di gerai kopi ini ketika malam hari sudah salah sejak dalam pikiran. Sebuah ide yang menunjukkan ketidak-pahaman saya dengan bekerja di gerai kopi, yang saat ini tampaknya sudah sangat dipahami anak-anak muda usia awal dua-puluhan. Kedua teman saya ini cukup nyinyir khususnya terkait hal-hal yang tren yang tidak mereka pahami atau lakoni. Salah seorang teman yang sudah berusia awal tiga-puluhan ini mulai berkomentar tentang betapa bergayanya anak muda para pengunjung gerai kopi ini yang sebelumnya telah ia ketahui melalui media sosial, yang kemudian memicu dia untuk juga berdandan untuk menyusul saya ketika tahu saya berada di gerai kopi ini. Sedangkan yang satunya, yang berusia dua-puluhan mengacungi jempol atas kemampuan anak-anak muda seumurannya karena dapat mengkonsumsi gaya hidup yang untuknya mahal, seperti halnya mengkonsumsi kopi di gerai kopi cabang Jakarta yang menerapkan harga Jakarta tersebut.

Pembicaraan yang menurut mereka nyinyir namun kritis ini (meski untuk saya lebih didominasi nyinyir karena intonasi yang mereka gunakan) membawa kami kepada obrolan tentang sejarah, bagaimana saya, dan teman saya yang berusia awal tiga-puluhan tersebut melihat adanya keterlepasan dari sejarah. Dimulai dari bagaimana gaya hidup semacam ini kemudian hadir di anak muda yang masih duduk di bangku kuliah semester awal, bagaimana gaya hidup melompat dari satu coffee shop ke yang lainnya ini hadir mutlak dalam pergaulan, hingga bagaimana harga yang tertera di gerai kopi ini maupun satu-dua gerai lainnya seolah melompat jauh dari harga pasaran di kota ini. Semua ini terasa ahistoris, meski hal ini masih dapat diperdebatkan karena mungkin kami pun tiba-tiba hadir dalam pusaran kehidupan mahasiswa-mahasiswa ini, yang mungkin telah ada namun tidak kami lakoni sehari-hari.

Satu teman kami yang paling muda sebenarnya adalah jawabannya. Jawaban bahwa tidak semua generasi muda seperti yang kami bicarakan karena gaya hidup yang ia lakoni pun berbeda lagi. Meski begitu, ia merasa minor diantara pergaulan mahasiswa masa kini, dan cukup kerepotan untuk mengikuti gaya hidup mahasiswa seusianya walaupun ia telah mencoba untuk selalu datang ke gerai kopi susu lain, yang cukup populer diantara mahasiswa masa kini. Jika ia, yang masih berusia muda saja kerepotan, apalagi saya dan teman saya yang satunya. Kami pun pulang dengan perasaan tua, dan semacam menyerah.

*Cerita ini bermula dari sebuah gerai kopi yang sangat terkenal dari Jakarta, Tanamera, tempat kami nongkrong malam tersebut. Satu coffee latte, satu cold white coffee, dan red velvet latte menemani obrolan tak berujung kami malam tersebut. Topik obrolan yang untuk saya cukup jarang kami pilih.

Buat toko online cuma 20 detik! Hanya Rp 99ribu/bulan. Coba sekarang GRATIS 15 hari. Kunjungi Jejualan Jasa Pembuatan Toko Online.

Cerita-Cerita dalam Sebuah Gerai Kopi: Tanamera Coffee

(Dito/DISKON.com)


Lokasi:

Nama Resto : Tanamera

Alamat :Jl. Jend. Sudirman (Timur Tugu Jogja), Jogja

Harga Per Porsi makan dan minum : Rp 40.000,-

Jam Operasional : 07.00 24.00 WIB

Rating :

Latitude: Longitude:

Tags : Kuliner, Jogja, Kopi, Coffee, Nongkrong


Komentari kuliner ini


© 2013 MakanJogja.com | Wisata Kuliner Jogja | Kontak Tim Makanjogja | hosted by IDwebhost Page loaded in 0.0684 second.